Pesan Terakhir Ibunda Mengawal 'Sekuriti' ini Berangkat Umrah

Edisi 7 Mei 2016 Kisah Inspirasi Islam
img

Anak bungsu dari lima bersaudara ini merasa tidak berdaya, kala ibundanya menyampaikan pesan terakhir sebelum dipanggil menghadap ke Rahmatullah.

Meskipun pesan itu singkat dan terdengar sederhana, namun rupanya begitu membekas dalam hatinya. Dengan raut muka haru ia katakan bahwa sang ibunda berpesan agar ia menjadi 'orang yang benar'. Di menit-menit terakhir itu pula, dihadapannya sang ibunda memintanya untuk membimbing kakak-kakaknya.

Adalah Disan, yang kala itu (tahun 1994) usianya masih 25 tahun, mendengar pesan Ibundanya ia merasa tersentuh dan sedih seketika. "Bagaimana tidak, di usia saya saat itu, saya tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa berdoa, mengaji, bahkan shalat lima waktu pun tak pernah saya lakukan. sampai-sampai ketika ibu saya meninggal sore hari itu, hingga esok paginya di pemakaman, saya tidak mendoakannya," kata Disan sedih.

"Sejak saat itu, saya merasa pesan ibu saya itu sesuatu yang luar biasa," tambahnya.

Sepeninggalan ibundanya, Disan mulai merasa terdorong untuk mencari dan mempelajari ilmu agama. Kala itu dilakukannya semata-mata agar ia bisa mendoakan orang tua.

DUA TAHUN SEJAK 'IBUNDA PERGI'

Disan bersama orangtuanya tinggal di kawasan Tangerang. Ia yang hanya lulus dari bangku SMP saat itu memang agak kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Berkali-kali, ia mencoba melamar di beberapa perusahaan, namun bekal ijazahnya membuatnya tidak percaya diri.

Namun, akhirnya di tahun 1996, Disan pun menerima panggilan dan diterima bekerja di sebuah pabrik di Tangerang. Ia merasa bersyukur, dan menekuni pekerjaannya sebagai karyawan.

Setahun bekerja di pabrik itu, Disan merasa ijazah yang dimilikinya sangatlah kurang, karena hampir semua perusahaan kala itu umumnya lebih memperhatikan lulusan SMA. Akhirnya, dari saran beberapa rekannya ia memutuskan sambil bekerja juga mengikuti sebuah program pendidikan persamaan selama setahun yang membuatnya meraih ijazah SMA.

Tahun 1999, ia pun menamatkan SMA-nya. Dengan bekal ijazah SMA itu Disan mencari pekerjaan baru yang lebih baik. Menurutnya, menjadi karyawan pabrik ia merasa sulit sekali mengatur waktu dan meluangkannya untuk keluarga. Sampai akhirnya, suatu hari ia mengajukan lamaran dan diterima di sebuah perusahaan sebagai tenaga sekuriti di kawasan Bintaro.

Ia sangat bersyukur, profesinya sebagai sekuriti membuatnya memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga dan mengisi kehidupannya dengan kegiatan ibadah. Sejak itu pula ia ikut pengajian keliling dari masjid ke masjid yang dilakukan secara rutin seminggu sekali. Ia selalu hadir di setiap pengajian itu yang dilaksanakan di masjid Nurul Hikmah yang berada di sekitar tempat tinggalnya.

Sejak ia menikahi Siti Maria, semangat belajar agamanya makin bertambah. Beruntung sekali, istrinya yang pintar membaca Al Quran mau mengajarinya dengan sungguh-sungguh Bahkan Disan merasa sangat nikmat melantun bacaan-bacaan dalam Juz Amma, buku dasar-dasar membaca huruf Arab.

"Saking senangnya, saya pernah semalaman membaca ulang Juz Amma itu sampai tuntas halaman terakhir, bagi saya ini seperti hidayah karena saya melakukannya dengan perasan yang nikmat" katanya.

Hari-hari Disan makin terisi dengan aktivitas keagamaan, setiap waktu luangnya di hari Senin dan Minggu pagi ia mengikuti pengajian di rumah ustadznya, Gus Arifin, untuk memperdalam lagi pengetahuannya dan menambah keimanannya.

TIGA TAHUN SEBELUM BERUMRAH

Bagi Disan, berniat untuk berangkat Haji atau pun Umrah, tentu saja tidak pernah terpikir dalam benak Disan. Apa lagi, melihat diri dan keluarganya yang hidup hanya bergantung dari gaji sebagai petugas keamanan. Bahkan, saran untuk ikut dalam program tabungan haji dan umrah pun dilakukannya sekadarnya saja, tanpa dorongan yang kuat, ketika diperkenal-kan program tabungan itu oleh sang ustadz, sekitar tahun 2010.

"Ya, saat itu saya sendiri merasa tidak begitu yakin, tidak tahu nanti bagaimana membayar biaya yang sebesar itu. Saya ya, ikut-ikutan saja," katanya. "Saya ikuti saja dengan ikhlas, lilahita Alla, nggak terasa tabungan itu terus berjalan, dan Alhamdulillah, akhirnya saya kok bisa juga membayar semua biaya itu," tambahnya.

Disan merasa Allah Ta'ala memudahkan semua urusannya untuk memenuhi kebutuhan seharihari dan menyisihkan untuk tabungan itu. "Jadi ya, ada saja pekerjaan yang saya terima diluar tugas rutin saya sebagai sekuriti. Padahal, kalau dipikir-pikir itu pas-pasan," kata Disan.

Belakangan Disan menyadari, bahwa Allah Ta'ala sedang mendorongnya untuk mewujudkan niatnya pergi berumrah. Ia bersyukur, semua biaya itu terpenuhi dan keberangkatannya ke tanah suci terlaksana.

UMRAH UNTUK DIRI, IBU DAN AYAH

Rasa syukur itu, sungguh-sungguh diwujudkan Disan, dengan ibadah ketika berada di Mekkah. Di sana ia mengatur waktunya dengan ketat, seluruhnya digunakan untuk menunaikan ibadah.

Di Mekkah, ia melaksanakan sebanyak tiga kali ibadah umrah, yang ia niatkan untuk dirinya, untuk ibundanya serta untuk ayahnya.

"Saya benar-benar menyediakan waktu untuk ibadah, jarang saya tidur lama-lama di hotel. Bahkan tengah malam pun saya berangkat ke Masjidil Haram. Sehingga setelah saya laksanakan umrah untuk saya sendiri, saya lanjutkan badal untuk Ibu saya, dan Ayah saya" jelasnya.

Di rumah Allah, Disan berupaya memaksimalkan ibadahnya, ia terus teringat pesan ibundanya, saat itu pula ribuan doa-doa terus dilantunkannya untuk perempuan tercinta yang melahirkannya. (*)

Artikel Terakhir

Arsip

Penyelenggara Umrah